OJK memperkirakan dampak 'minimal' terhadap NPL setelah program restrukturisasi pinjaman berakhir – Ekonomi

OJK memperkirakan dampak 'minimal' terhadap NPL setelah program restrukturisasi pinjaman berakhir – Ekonomi

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan perbankan siap menghadapi selesainya program restrukturisasi pinjaman yang berakhir pada 31 Maret lalu.

Pada akhir Februari, masih terdapat 977.000 debitur dengan pinjaman dalam proses restrukturisasi, dengan jumlah utang sebesar Rp 242,8 triliun (US$15,25 miliar). Pada puncak program, saldo pinjaman yang direstrukturisasi mencapai Rp 900 triliun dari 8 juta nasabah.

Berdasarkan stress test yang dilakukan sebelum program restrukturisasi berakhir, OJK melihat tidak ada risiko peningkatan tajam rasio kredit bermasalah (NPL) pada pemberi pinjaman.

“Potensi peningkatan NPL dan kredit berisiko (LAR) setelah stimulus berakhir akan minimal karena bank telah menerapkan prinsip kehati-hatian dalam merestrukturisasi kredit,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae dalam keterangannya. Selasa.

Pada bulan Februari, rasio NPL seluruh sektor perbankan di Tanah Air adalah sebesar 2,35 persen, lebih rendah dari 2,58 persen pada bulan yang sama tahun lalu dan jauh di bawah ambang batas maksimum sebesar 5 persen yang dapat diterima oleh OJK.

Rasio LAR mencapai 11,56 persen pada bulan Februari, turun dari 14,51 persen pada tahun sebelumnya.

Setiap Senin

Dengan wawancara eksklusif dan liputan mendalam mengenai isu-isu bisnis paling mendesak di kawasan ini, “Prospek” adalah sumber yang tepat untuk tetap menjadi yang terdepan dalam lanskap bisnis Indonesia yang berkembang pesat.

untuk mendaftar buletin kami!

Silakan periksa email Anda untuk berlangganan buletin Anda.

Lihat Buletin Lainnya

OJK mencatat perbankan telah melakukan penyisihan potensi kerugian yang memadai dengan cakupan industri melebihi 336,6 persen LAR perbankan dan 202 persen NPL.